Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rahasia Ditundanya Azab

Serial Kajian Alquran: Surat Al-Nahl ayat 1

Azab Allah itu pasti datang, maka manusia tidak bisa meminta untuk dipercepat dan atau diperlambat. Manusia tidak tahu kapan, dimana, dan dalam bentuk apa azab itu terjadi. Ketidaktahuan manusia ini terkadang membuat keimanan kepada adanya azab Allah itu menjadi lemah. Dalam hal inilah orang-orang kafir Quraish tempo dulu menuduh Nabi Muhammad sebagai pembohong karena ancaman tentang adanya azab bagi mereka belum kunjung datang dan mereka anggap tidak terbukti. 
Ancaman Allah bahwa azabNya akan datang dan menimpa kepada orang-orang kafir dan orang-orang zhalim tidaklah serta merta didatangkan saat kezhaliman itu terjadi, tapi boleh jadi akan didatangkan pada waktu tertentu pada saatnya yang tepat. Dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib, al-Razi (w. 606 H) ) menyebutkan, bahwa dibalik ditundanya azab Allah ini tersimpan beberapa rahasia penting: 
Pertama, bahwa manusia diberi kesempatan untuk berdoa kepada Allah meminta perlindungan dan keselamatan jika saatnya nanti azab itu telah tiba. Dalam hal ini, maka hanya doa perliindungan dan kesalamatan yang dapat dipanjatkan, karena manusia tidak memiliki kuasa dan kewenangan untuk menolak azab jika memang sudah saatnya tiba.
Kedua, bahwa manusia diberi kesempatan untuk lebih memahami dan meyakini bahwa azab itu memang ada dan terus ada sepanjang kekafiran dan kezhaliman itu ada. Belum didatangkannya azab bagi mereka yang kafir dan zhalim bukan berarti bahwa azab itu tidak ada. Datangnya azab hanya persoalan waktu, maka manusia harus tetap waspada dengan segala resiko yang bakal menimpa. Wallahu A'lam.

Ternyata Nabi ADAM Bukan Manusia Pertama

Memposisikan kata "basyar" dan "insan

Nabi Adam, sesuai sebutannya, dipastikan sebagai Nabi Pertama dalam sejarah kenabian, tetapi ia bukan manusia pertama dalam sejarah kemanusiaan. Kenyataan ini dapat dilihat dalam indikasi Alquran ketika kata "basyar" dan "insan" yang secara bahasa sama-sama diartikan "manusia", tetapi penggunaan antara keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata "basyar" lebih merujuk kepada arti manusia secara umum, manusia bilologis, tetapi kata "insan" lebih merujuk kepada arti manusia secara khusus, yaitu manusia berbudaya dan berperadaban. Sehingga, setiap "insan" adalah "basyar", tetapi tidak setiap "basyar" itu "insan. "Basyar" memiliki bentuk yang statis (jamidah), sementara "insan" adalah kata yang dinamis (mutasharrifah).
Dalam Alquran, kata "Insan" digunakan lebih kepada manusia yang berperadaban tinggi (laqad khalaqna al-insan fi ahsani taqwim) karena faktor intelektual dan spiritual, ketimbang "basyar" yang tidak lebih dari hanya sebatas faktor fisikal. Manusia pertama (baca:primitif) masuk dalam kategori "basyar", sedangkan manusia "modern" masuk dalam kategori "insan". Oleh karena itu, "insan" tidak digunakan kecuali pada manusia yang mendapatkan tanggungjawab tauhid dan ibadah, dalam hal ini dimulai dengan keberadaan Nabi Adam. Beban agama yang diberikan kepada Adam sebagai Nabi adalah karena sifat ke-insaniah-annya, bukan ke-basyariah-annya. Maka, kemunculan Nabi Adam adalah simbol kemunculan pertama bagi "insan", dan tidak berkaitan dengan "basyar". Dalam konteks ini, Nabi Adam merupakan bapaknya manusia, "abu al-insan", bukan "abu al-basyar". Adam berbeda dengan Nabi Adam, dan sebelum muncul Nabi Adam, sudah ada "adam"-"adam" sebelumnya, dan kita termasuk "turunan adam" (bani Adam). Wallahu a'lam

Ternyata AZAR Bukanlah Bapak Nabi Ibrahim


Perbedaan Semantik Kata "Abu" dan "Walid
Tahukah anda bahwa Azar yang disebut-sebut dalam Alquran (Q.S.Al-An’am:74) sebagai bapak Nabi Ibrahim ternyata bukanlah bapak yang sebenarnya? Kebanyakan orang selama ini mungkin telah berpendapat bahwa berdasarkan petunjuk tekstual ayat tersebut, Azar lah bapaknya, namun semua itu keliru. Lantas, siapa nama bapak Nabi Ibrahim yang sebenarnya?

Hasil gambar untuk nabi ibrahimAzar yang disebut dalam Alquran sebagai ”abun (arab:bapak) memang benar diartikan sebagai bapak, tapi bukanlah bapak kandung dalam arti yang melahirkan. Dalam etimologi bahasa arab, minimal ada dua istilah yang menunjuk kepada arti bapak, pertama: ”abun”, dan kedua; ”walidun”. Dua-duanya sama-sama diartikan sebagai ”bapak”. Hanya saja, kata ”abun” memiliki arti yang luas, boleh jadi berarti bapak kandung yang melahirkan, paman (saudara bapak), bapak tiri, dan atau bapak angkat. Berbeda dengan etimologi kata ”walid”. Kata ini secara spesifik menunjuk kepada arti ”bapak kandung yang melahirkan”. Dalam pengertian inilah, maka Tuhan disebut sebagai ”tidak memiliki bapak kandung” (lam yalid walam yulad).
Semua orang (jika membaca Alquran) pasti tahu, bahwa Azar adalah pembuat patung yang kemudian dijadikan sesembahan orang-orang musyrik. Kalaulah Azar si pembuat patung ini dianggap sebagai orang tua Nabi Ibrahim, sementara Ibrahim sendiri justeru mengajarkan ketauhidan, sungguh ironis bukan?
Untuk membantah anggapan tersebut, sejarah telah membuktikan, bahwa genealogi para nabi adalah orang-orang yang berasal dari keturunan yang bertauhid (hanif), bukan penyembah berhala. Dalam tafsir al-Mizan, al-Thabathaba’i (VII:173) menyebutkan orang tua Nabi Ibrahim yang sebenarnya, yaitu: Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Saruj bin Ra’wa bin Falij bin ’Abir bin Syalih bin Arfaksyadz bin Sam bin Nuh (Nabi Nuh As). Shadaqallahul ’azhiem

Ternyata Nabi Muhammad Tidak Buta Huruf

Memaknai ke "Ummi" an Nabi Muhammad: Refleksi Maulidurrasul.
Kata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Kaum Yahudi telah diberi tiga buah kitab melalui beberapa orang nabi mereka. Karenanya, mereka di sebut ahli kitab. Sedangkan orang-orang Arab, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang orang Arab. Hal ini dijelaskan-Nya dalam Firman-Nya: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang tidak diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).
Berdasarkan ayat di atas, kata “ummi” itu tidak bermakna buta huruf. Alquran malah membantah keras jika kata "ummi" diartikan sebagai kebutahurufan Nabi Muhammad.Banyak ayat di dalam Alquran yang memerintahkan Nabi supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabi'ul Awwal 1438 H

Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu….” (QS 6:151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (QS 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (QS 62:2). Baca juga dalam QS 5:27, QS 17:106, 27:91-92, QS 33:33-34, QS 39:71.

Sulit menerima hakikat bahwa seorang Nabi pilihan-Nya tidak tahu membaca padahal ayat yang diturunkan pertama kali adalah perintah membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS 96:1). Ayat Alquran yang pertama sudah menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca (kalau beliau dianggap buta-huruf). Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.
Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”, atau orang-orang yang tidak diberi kitab. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.
Alquran tidak hanya menjelaskan nabi pandai membaca, tetapi pandai menulis. DalamAlquran dijelaskan orang-orang kafir menuduh Rasul menulis dongeng-dongeng orang terdahulu dan disebutnya firman-firman Tuhan: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al-Furqan : 5).
Dan terakhir, terdapat sebuah ayat lagi yang insya Allah dapat menepis sama sekali keraguan terhadap Nabi yang dikatakan tidak pandai membaca dan menulis. Firman-Nya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48).
Ayat ini menegaskan, Nabi tidak pernah membaca dan menulis satupun Kitab sebelum menerima Alquran. Maksudnya, setelah menerima Alquran, Rasul membaca dan menulis Kitab dengan tangan kanannya. Ayat ini pun menunjukkan, dengan tidak pernahnya Rasullullah membaca atau menulis satu kitab pun semisal Alquran, bukan berarti Rasulullah tidak tahu membaca dan menulis. Misalnya membaca dan menulis dalam urusan perdagangannya. Nabi adalah seorang pedagang yang terkenal. Dan para ahli sejarah sepakat, pada zaman Nabi tidak menggunakan angka-angka; huruf huruf abjad telah digunakan sebagai angka-angka. Sebagai seorang pedagang yang berurusan dengan nomor-nomor atau angka-angka setiap hari, Nabi tentunya tahu tentang abjad, dari satu sampai keseribu. Karenanya, tidak ada dalih yang kuat apalagi untuk mempertahankan pendapat Nabi Muhammad buta huruf.
Dr Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitab wal Quran tidak mau menerima cerita tentang buta hurufnya Nabi. Karenanya ia mengatakan, “Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis.” Kalau keraguan masih ada, izinkan saya meminta untuk kembali membaca, surat pertama Tuhan kepada kekasih-Nya, “Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan….!” Wallahu ‘alam. *
Dikutip dari tulisan Ismail Amin, Mahasiswa Institute for Language and Islamic Studies, Republik Islam Iran. Pernah dimuat di Harian Fajar http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=45001

Revolusi Mental dalam Perspektif Al-Qur'an

Makalah disampaikan penulis dalam Seminar Alquran MTQ Nasional III Korpri di Lamin Etam Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda pada tanggal 15 November 2016, bersama dengan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A (Mantan Wakil Menteri Agama RI).

 
biz.